Selamat datang di http//chalimustang.blogspot.com. Semoga tulisan saya dan informasi di situs lain yang dilink melalui blog ini dapat bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca! Juli 2012 ~ Chali Mustang

Berburu Botol Bekas

Anak-anak menjulurkan tangan ke arah mobil yang melintas di jalan poros Kabupaten Bulukumba - Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Mereka berharap pengemudi kendaraan membuang botol minuman mereka yang sudah kosong untuk dijual kepada petani rumput laut di Bantaeng. Uangnya, dibelikan jajan atau ditabung untuk biaya sekolah.

Batik Bomba Nagaya

Ibu berusia senja sedang membatik di Rumah Industri Batik Bomba Nagaya Udin Hermawan di Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Batik Bomba Nagaya adalah batik khas Tadulako, Palu. Satu motifnya yang paling dikenal yaitu Motif Tai Ganja.

Lammang Bambu

Seorang warga Kampung Rukuruku, Kelurahan Palengu, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, membolak-balik lammang bambu di atas api pembakaran. Lammang bambu adalah salah satu makanan khas tradisional Sulawesi Selatan yang hingga kini masih banyak diproduksi di Jeneponto.

Sarung Sutera Mandar

Seorang perempuan sedang meng-klos (menggulung benang sutera) di Balai Industri Sutera, Desa Samasundu, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Benang ini selanjutnya ditenun menjadi kain lalu dibuat sarung. Salah satu ciri kain dan sarung khas sutera Mandar yaitu bermotif kotak-kotak.

Mengepak Rumput Laut

Pada suatu senja, di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, seorang ibu paruh baya sedang mengepak rumput laut yang sejak pagi dikeringkan di pinggir pantai. Budidaya rumput laut merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Bantaeng.

Terima kasih atas kunjungan Anda dan selamat membaca!

Jumat, 27 Juli 2012

[Puisi] Rahasia

seonggok liur di tempayan 
amarah ditelan dengki 
lidah api membakar alam 
riuh
meratap tapi waktu tak kenal
tubuh 
hati 
angin 
rahasia 

Sinjai, Agustus 1999

Senin, 02 Juli 2012

Menengok Karampuang

Alhamdulillah; beberapa pekan lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Karampuang. Tanah atau kawasan adat di Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai yang mungkin pernah Anda dengar, atau sudah Anda baca, atau barangkali juga sudah sering Anda lihat di tivi. Dan saya kembali menginjakkan kaki di sana, setelah (seingat saya) 6 tahun yang lalu, saya sempat meliput jejak budaya-nya.
----------------------------------------------------------------------------------------------

JARUM jam menunjuk angka 9. Dalam Escudo yang dikemudikan Pak Haer, saya, Pak Enal, Bu Fira dan Bu Ayu, menuju Karampuang. Kedatangan saya ke sana –untuk yang ke dua kalinya-, sebut saja sebagai perjalanan kecil untuk kembali melihat budaya masa lalu yang unik. Budaya dulu yang membuat orang (bukan hanya saya) tertarik datang ke sana. Atau paling tidak (dan barangkali tidak berlebihan) bila saya bilang bahwa Karampuang memiliki magnet yang sedemikian menggoda sehingga banyak orang tertarik untuk mengunjunginya. Termasuk delapan kru Kompas TV Jakarta yang hari itu juga datang untuk mengambil gambar di sana. Tentu saja, juga untuk mewawancarai tokoh adat –mengungkap pesan-pesan moral pendahulu di tanah itu.

Sebelum tiba di Karampuang, kami melewati jalan berbelok-belok. Saya menyebutnya berbelok, karena memang bukan jalan lurus yang kami tempuh. Adalah jalan berliku yang diapit pohon tinggi dan tebing terjal yang membuat jantung Bu Fira berdetak-berdetak. “Saya takut ketinggian, takut kalau melihat ke bawah (jurang),” begitu kata Bu Fira di atas mobil yang kami tumpangi yang terus bergerak pelan, meliuk, mendaki di Bulu Tellue. Kendati jalannya berbelok-belok dan mendaki, tapi sebenarnya pemandangan sekitar yang saya lihat lumayan mempesona.

Bulu Tellue adalah bahasa Bugis. Artinya, tiga gunung. Di kawasan itu, terdapat gunung yang memang jumlahnya tiga, yang kemudian dijadikan sebagai nama sebuah desa. Desa itu yang mewakili Kabupaten Sinjai pada Lomba Desa Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, tahun 2012 ini. “Jadi desa ini namanya Bulu Tellue karena memang di sini ada tiga gunung,” kata Pak Enal lalu menunjuk salah satu puncak Gunung Bulu Tellue.

Menanjak di jalan berbelok yang membelah Gunung Bulu Tellue memang membutuhkan ketelatenan sang pengemudi. Saya melihat beberapa kali Pak Haer terpaksa mengoper gigi untuk melewati pendakian. “Pake gigi satu ya, Pak?” Tanya saya kepada Pak Haer. “Iya, supaya tidak ada keraguan lagi saat mendaki!” begitu katanya.

KIRA-KIRA sejam kemudian, kami tiba di gerbang masuk Kawasan Adat Karampuang. Saya melihat kru Kompas TV sedang bekerja. Ada juru kamera lagi asyik mengambil gambar, ada audioman, ada presenter, ada pula produser yang kulihat mengarahkan rekan-rekan-nya. Pak Haer memarkir mobil lalu kami turun. Kami berjalan masuk ke Karampuang.

Perjalanan kecil itu ternyata mempertemukan saya dengan Pak Muhannis. Seorang guru. Guru saya, yang datang bersama kru Kompas TV dan memandu awak media itu di Kawasan Adat Karampuang. “Pungut batu kecil, terus simpan di atas besar itu, tapi lapisi daun!” Seru Pak Muhannis, “batu itu adalah tanda bila ada tamu dari jauh yang masuk tanah adat (Karampuang)”.

Saya teringat waktu saya duduk di bangku kelas 3 SMU, tepatnya tahun 1999, Pak Muhannis mengajar mata pelajaran Antropologi. Bagi saya, ia adalah guru yang baik. Sederhana dan saya tidak pernah melihatnya marah kepada anak didiknya. Selain guru, saya menyebutnya sebagai budayawan yang paham benar jejak budaya di Sinjai. Ia mengetahui sejarah budaya daerah ini (termasuk Karampuang) meski sebenarnya dia bukan orang yang lahir di Sinjai, tapi di Ara, Kabupaten Bulukumba.

Kata Pak Muhannis, penghargaan warga adat Karampuang sangat tinggi kepada para tetamu. “Jadi warga setempat tidak akan naik ke rumah adat bila ada tamu yang datang dari jauh, kendati pun (misalnya) ada masalah yang harus diperhadapkan kepada Puang Matoa (seorang lelaki; tokoh adat Karampuang), hanya kaum perempuan yang tinggal di sekitar rumah adat yang biasa membawa makanan untuk disajikan kepada tamu yang datang,” ujar Pak Muhannis.

Sebelum tiba di Rumah Adat Karampuang, saya menjumpai sumur yang tua. Pak Muhannis bilang, air sumur itu tidak pernah habis. Mata air-nya benar-benar mengalir dan konon bila seorang perjaka atau gadis mencuci muka menggunakan air sumur itu, maka akan cepat terbuka jodohnya. Begitulah.

Lalu kami tiba di pintu masuk kawasan Rumah Adat Karampuang. Puang Gella membuka pintu pagar yang terbuat dari bambu. Ia menjemput dan mempersilahkan kami masuk ke halaman. Tidak begitu jauh, terlihat dua rumah adat; dua rumah panggung yang bentuknya unik. Masih seperti enam tahun yang lalu sewaktu saya datang ke sini. Tak terlihat adanya ornamen baru sebagai pertanda adanya pengaruh modernisasi. Keduanya tampak kokoh. Berdiri seperti dulu, tak dipoles gaya bangunan kekinian. Di kawasan rumah adat itu, saya juga melihat sejumlah bebatuan yang ukurannya besar-besar dan pohon-pohon yang menjulang tinggi –usia pohon-pohon itu sekira ratusan tahun.

Bagi saya, tak ada yang hilang di Karampuang. Begitu pula saat saya naik ke rumah adat. Tangganya terbuat dari kayu. Pintu rumah itu tidak berdiri seperti pintu kebanyakan. Tapi terlihat berbaring dan bila ditutup kembali, maka pintu itu sejajar dengan lantai rumah. Pada bagian dalam ( di tengah-tengah) pintu terdapat batu. “Batu itu sebagai simbol kelamin perempuan (maaf; clitoris wanita),” kata Pak Muhannis, “bahwa kehormatan perempuan adalah simbol kehormatan di Tanah Adat Karampuang yang oleh warganya harus benar-benar dijaga”.

Di atas rumah adat, kru Kompas TV sibuk melakukan wawancara dengan tetua adat (To Matoa). Ia bertanya seputar To Manurung di Karampuang. To Matoa adalah seorang sosok orang tua yang ternyata sebagai perwujudan To Manurung. Ia tidak pandai berbahasa Indonesia (hanya Bahasa Bugis) sehingga harus melalui perantara tetua adat lain (Puang Gella).

Sedikit saya sempat menyimak wawancara itu. Dijelaskan, bahwa To Manurung adalah seorang sosok yang tiba-tiba muncul di atas batu yang katanya nama batu itu adalah Batu Lappa, tepatnya di puncak Cimbolo (puncak bukit yang tampak ketika wilayah lain masih berupa lautan). To Manurung kemudian digelar Manurung Karampulu’e. Artinya, karena kehadirannya, bulu kuduk warga berdiri semua. Kata Karampulu’e selanjutnya berubah menjadi Karampuang. Dikatakan lagi, bahwa Tomanurung kemudian lenyap dan kembali ke langit setelah membentuk istana dan peradaban di Karampuang.

DALAM beberapa literatur juga dituliskan bahwa Karampuang berasal dari kata Karaeng dan Puang. Bahwa dulu, rumah adat (Bola Toa) itu merupakan tempat pertemuan raja-raja dari Suku Makassar yang gelar kebangsawanannya adalah Karaeng dan pemimpin Suku Bugis yang bergelar Puang. Kedua kata itu lalu dipadukan menjadi Karaengpuang yang akhirnya disebut Karampuang.

Tak begitu lama saya di dalam rumah adat itu. Kami beranjak turun. Di depan Bola Toa, di atas sebuah batu besar, tampak reporter Kompas TV sedang melakukan wawancara dengan Kepala Dinas Komunikasi Informatika Kebudayaan dan Kepariwisataan (Kadiskominfobudpar) Kabupaten Sinjai, Pak Ahmad Suhaemi. Tentu saja, topiknya seputar Karampuang.

KAMI pulang sebelum sore. Dalam Escudo yang disetir Pak Haer, saya, Pak Enal, Bu Fira, dan Bu Ayu kembali menempuh jalan menikung-menikung dari kilometer 31 di Kawasan Adat Karampuang menuju Kota Sinjai. Sementara dari speaker di belakang saya, terdengar musik pop; dan sebentar-sebentar, terngiang lagi Karampuang yang baru saja kami jejaki. Sebuah budaya masa lampau yang menyingkap nilai hidup. Budaya yang santun dan memendam khasanah kesederhanaan juga kebersahajaan di Sinjai….