Selamat datang di http//chalimustang.blogspot.com. Semoga tulisan saya dan informasi di situs lain yang dilink melalui blog ini dapat bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca! [Cerpen] Cenningrara ~ Chali Mustang

Terima kasih atas kunjungan Anda dan selamat membaca!

Sabtu, 14 April 2012

[Cerpen] Cenningrara

PAGI telah tiba. Elling sudah berpakaian. Rapih. Hari ini, Elling akan mengikuti rapat pemuda di balai desa. Ia harus cepat-cepat tiba di sana. Tapi tunggu dulu. Elling kembali ke kamar. Berdiri di depan cermin. Menatap wajahnya dalam-dalam. Lama ia melihat-lihat wajahnya. Bersitatap dengan dua bola mata di dalam cermin itu. Pelan-pelan ia memasukkan ibu jari tangan kanannya ke dalam mulutnya. Hati-hati ia menarik keluar. Ibu jarinya kemudian diletakkan tepat di jidatnya. Elling mendehem. “Cenningrara tula benreng, mattappa pada uleng seppulo eppa omponna, merennu-rennu i Ninong, iapa namanyameng nyawana narekko ia’ naita, iapa namanyameng nyawana narekko ia’ napariati, barakka kumpayakum.” Rupanya Elling membaca mantera. Puih… Seketika tetes-tetes liur memercik keluar mengenai kedua telapak tangannya. Ia memejamkan mata sejenak. Mendekapkan kedua telapaknya lalu mengusap wajahnya. Ia kembali melihat ke dalam cermin. Tampan. Aku sudah tampan. “Aku kudapatkan cintamu, Ninong,” ujar Elling dalam hati. Ia menyabet sebuah buku catatan dan pulpen di atas meja lalu bergegas menuju balai desa.

***

AULA di balai desa itu sudah ramai. Semua peserta rapat telah datang. Elling masuk ruangan dengan gagahnya. Ia berjalan menuju kursi paling belakang. Diantara seluruh hadirin, Elling-lah yang paling menarik perhatian. Termasuk menarik perhatian Ninong, anak bungsu Karaeng Muttu. Di depan, ketua karang taruna desa itu, namanya Lampe’, siap-siap membuka rapat. Ia didampingi pak kepala desa. Rapat membahas persiapan lomba tarik tambang antar RT menyambut hari kemerdekaan RI. Di dalam ruangan itu, Elling tampil mempesona. Ia berbicara dengan ramah. Mengeluarkan pendapat di tengah forum. Santun sekali. Roman mukanya menyemburkan aura kelaki-lakian. Bercahaya, seperti cahaya bulan purnama yang bersinar terang di tengah malam.

Usai berbicara, Elling memendarkan pandang. Ia mencari Ninong. Ia melihat-lihat ke semua isi ruangan. Seketika tatapannya tertuju pada sebuah kursi di tengah ruangan. “Ninong, dia ada di sana.” Elling dan Ninong beradu pandang. Keduanya saling melempar senyum. Senyum manis yang seolah-olah mengirim puisi-puisi cinta. Senyum serupa magnet yang selalu menarik keduanya agar bisa berdekatan, berbicara panjang lebar tentang dunia beserta segala isinya. Sesekali Ninong berbisik-bisik dengan perempuan yang duduk di sampingnya, lalu kembali beradu pandang dengan Elling. “Ternyata cenningrara warisan kakekku masih manjur, Ninong mulai jatuh cinta sama saya,” gumam Elling.

Sebenarnya, banyak lelaki lain yang menaruh hati kepada Ninong. Salah satunya Lampe’, sang ketua karang taruna. Elling dan Lampe’ sama-sama keturunan orang biasa-biasa saja. Mereka bersaing untuk mendapatkan Ninong. Meski bukan anak karaeng, namun kedua pemuda ini memiliki kepercayaan diri yang kuat. Barangkali karena wajah Ninong begitu ayu sehingga membuat keduanya sedikit lupa diri. Tak peduli dengan strata sosial yang masih kental melekat pada diri Ninong. Dan lantaran Elling punya kekuatan gaib, cenningrara, maka ia dengan sangat mudah mengalahkan Lampe’. “Lewatko Lampe’, saya ada cenningraraku, sahaba’….” Begitu kata Elling.

Mula-mula Elling tidak begitu peduli dengan perasaannya. Menyepelekan ketertarikannya kepada Ninong. Ia menganggap bahwa tidak mungkin ia memiliki Ninong. Karaeng Muttu sangat selektif memilih suami untuk anaknya. Ia berkilah bahwa upayanya mustahil menjadi kenyataan. Semacam lengkara. Tapi kemudian Elling merasakan desiran rindu dalam hatinya. Semakin lama semakin membuncah. Dan bergetar-getar hatinya saat melihat Ninong. Apalagi ia tidak pernah berhenti membaca tanda-tanda. Bagaima dengan Ninong? Baginya, Elling adalah lelaki paling tampan di dunia. Ada gelagat tentang perasaan yang sama pada dirinya. Perempuan itu selalu memberikan isyarat yang tidak lazim. Mungkin karena pengaruh gaib cenningrara. Tatapannya, senyumnya, semua terlihat seperti orang yang benar-benar sedang jatuh cinta. Ringkas kata, cintanya Elling kepada Ninong, bersambut. Keduanya kini sama-sama mencintai. Dan bila tidak bertemu, keduanya saling merindukan. Begitulah.

Usai rapat, Elling mendekati Ninong. Ia menyapa perempuan itu dengan lembut. Membicarakan hasil rapat namun sebetulnya yang terjadi pada keduanya tidak lain adalah peraduan getaran. Hati Elling bergetar. Begitu pula hati Ninong. Getaran yang tersembunyi di dalam dada dan pada wajah keduanya tersirat pesan-pesan cinta. Tidak tampak tapi jelas sekali pada tingkah keduanya. Sama-sama kikuk. Malu-malu. Ninong terus terpesona kepada lelaki pujaannya itu. Baginya, wajah Elling tampan rupawan. Pada wajah itu, ada semacam pesan yang menyemai rindu dan mungkin akan menjadi sebuah kenyataan dimana keduanya duduk di pelaminan dan tetamu berdatangan mengucapkan; selamat berbahagia. Besok atau lusa. Entahlah. Namun yang pasti, sekarang hubungan cinta keduanya sudah merebak di mana-mana. Semua orang kini tahu bahwa Elling dan Ninong saling menyukai.

“Ninong itu gadis berdarah biru, tidak pantas konikahi, Karaeng Muttu pasti tidak restuiko,” kata Donggo, sahabat Elling, suatu ketika.
“Tapi kalau saya sukaki dia, bagaimanami?”
“Iya, cinta boleh-boleh saja. Tapi janganko berharap banyak!”
“Cinta tidak selamanya memiliki, begitu maksudmu?”
“Iya, anggapmi saja begitu!”
“Jaman sudah modernmi, Donggo! Sekarang bebasmaki memilih pasangan,”
“Hahaha, Eling, semua kakaknya Ninong itu menikah dengan anak bangsawan. Bisaji mungkin kau menikah sama dia tapi kau harus merantau dulu, cariko uang banyak-banyak baru kau pergi lamarki!”
“Ah, itu mereka, bukan saya.”
“Janganko egois, Elling…! Lebih baik carimako perempuan lain!”

***

MALAM merambat pelan. Terdengar gelak tawa di teras sebuah rumah panggung. Rumah itu berdiri kohoh. Seperti istana raja. Besar dan semua bahannya dari kayu. Karaeng Muttu sedang berbincang-bincang dengan Karaeng Balang Tonji. Sementara di dalam sebuah kamar rumah itu, Ninong berusaha merekam percakapan ayahnya. Telinganya didekatkan di daun pintu, agar suara ayahnya terdengar jelas. Ninong tak ingin ada sepatah kata pun yang terlewatkan. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk. Tetapi kadang telinganya dipaksa untuk tegak ketika suara ayahnya tidak terdengar jelas. Ninong penasaran kalau-kalau ayahnya membicarakan sesuatu tentang perjodohannya. Maklum, belakangan berhembus kabar kalau dirinya menjalin hubungan dengan Elling. Ia takut cerita itu sampai ke telinga ayahnya dan segera menjodohkannya dengan lelaki lain. Maklum, dua kakaknya, seorang laki-laki dan seorang lagi perempuan, semuanya dijodohkan dengan anak bangsawan dari desa tetangga. “Andi Ninooong, bikin apaki, Nak?” Tiba-tiba suara ibunya, Karaeng Mila, terdengar di balik pintu kamar. Ninong terperanjat.
“Iye, tidakji, Karaeng,” kata Ninong. 
“Kenapa dalam kamar teruski’, Nak? Buka pintuta!”
Pelan-pelan Ninong membuka pintu. Suara engsel memekik. Karaeng Mila berdiri di depan pintu. Ia memegang sebuah gelas kaca berisi air. Ia tersenyum. Ninong membalas senyum itu.
“Ada apa, Karaeng?” tanya Ninong.
Tiba-tiba Karaeng Mila menumpahkan air ke telapak tangannya lalu secepat kilat memercikkan air itu ke wajah Ninong. Ninong kaget bukan main.
“Ada apa ini, Karaeng? Kenapaki?”
“Supaya tambah cantikki, Nak,” jawab Karaeng Mila singkat, lalu pergi ke ruang tengah meninggalkan Ninong yang terheran-heran dan berdiri di pintu kamarnya. Ninong mambasuh wajahnya yang basah dengan handuk. Ia bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Karaeng Mila memercikkan air ke wajahnya. “Baru kali ini Karaeng bertindak begitu, aneh sekali,” pikir Ninong.

***

WAKTU terus berlalu. Elling dan Ninong bertambah lengket. Hubungan keduanya semakin dekat. Sejatinya, Elling dan Ninong kini menjadi pasangan serasi. Sulit dipisahkan. Dan bila sore tiba, saat orang-orang menikmati senja di alun-alun, Elling juga hadir di sana. Ia duduk berselonjor di atas rumput bersama Ninong. Keduanya berbicara sesumringah. Sesekali mereka beradu pandang. Saling memberi senyum. Lalu kembali bercerita tentang apa saja yang membuat keduanya bahagia. Romantis sekali. Sementara di tempat yang jauh di sana, di dalam sebuah rumah panggung kecil, Karaeng Mila tampak sibuk berbincang-bincang dengan seorang dukun kampung. “Andi Ninong tambah dekat sama Elling. Kenapa begitu? Padahal saya sudah percikkan air ke matanya, sesuai petunjukta,” tanya karaeng Mila.
“Apa?” Dukun itu balik bertanya. Dia tidak mendengar perkataan Karaeng Mila.
“Andi Ninong semakin dekat sama Elling. Kenapa bisa begitu? Padahal saya sudah percikkan air yang kita kasihka’ dulu,” kata Karaeng Mila lagi dengan suara agak keras.
“Apaaa…?” Rupanya dukun itu belum mendengar dengan baik. Maklum. Sudah tua. Dukun tuli.
“Andi Ninooong masih pacaraaan sama Elling…, malah tambah dekatki kuliaaat. Padahaaal sudahmi kusiram matanya pakai air yang kita kasihka’ tempo hariii....” Karaeng Mila berteriak.
“Oh…, begituuu. Saya kira dulu minta’ki obat agar Andi Ninong suka sama suaminya!”
“Masyaallaaah, Andi Ninong belum menikah. Maksudku tidak begituuu…, dulu saya minta obat agar Andi Ninong tidak sukaaa sama Elling karena Karaeng Muttu tidak merestui hubungan merekaaa…,” kata Karaeng Mila lagi dengan nada yang lebih keras. Ia berteriak sekuat-kuatnya agar dukun itu bisa mendengarkan dengan baik.
“Hahaha….” Dukun itu ketawa keras. Terbahak-bahak. Saking kerasnya, cicak-cicak di dinding rumah itu berlarian ke sana ke mari. “Salah kasihka’ itu pale obat, kupikir Andi Ninong sudah menikah na tidak nasukaki suaminya jadi kukasih obat pengasihan, sebentar saya bikinkanki obat lagi supaya dia benci sama laki-laki itu. Maaf, Karaeng, siapakah namanya itu laki-laki?”
“I Elling.”
“Siapaaa?”
“Ih, liwa’ tongeng tarunna tau toae,[1]” kata Karaeng Mila dalam hati, lalu bersuara keras, “i Elliiing….”
“Oh, i Elling.”    

***

HARI belum begitu siang. Tapi rumah Karaeng Muttu sudah ramai. Semua keluarga berdatangan. Mereka berkumpul merayakan pesta besar. Sebentar lagi, rombongan mempelai pria datang. Sementara Ninong duduk di atas ranjang pengantin dalam kamar yang berhias bunga-bunga bermacam-macam warnanya. Ia tampak cantik sekali memakai gaun pengantin. Tak lama kemudian, Lampe’ dan keluarganya, datang. Ia disambut tetabuhan gendang dan atraksi silat kampung. Lampe’ melangkah masuk ke dalam kamar pengantin dengan gagah berani. Tiba-tiba saku celananya basah sebasah-basahnya. Sepertinya ada air jatuh bercucuran. Raut muka lampe sedikit memucat. Tak kuasa menyembunyikan rasa malu. Namun ia berusaha membangkitkan kepercayaan dirinya. “Aweeendoe…, natemei alena bottingnge, teme tettongngi[2],” bisik seorang perempuan.
“Hussst….” Perempuan lain memberi isyarat, diam.
“Saya tidak kencing anu…, ini minnya’ tokke’[3] yang meluluhkan hatinya Ninong, karena inimi Karaeng Muttu bertekuk-lutut sama saya, tidak ada apa-apanya itu i Elling, cenningrara dongo’[4], gayanaji…, saya yang menang,” kata Lampe’ dalam hati. Tak ada yang mendengar. Hanya dia sendiri yang tahu. Dengan percaya diri, Lampe’ menyentuh leher istrinya dengan jari tengah yang berminyak. Lampe dan Ninong, siluka[5]….

Parang Tambung, 2011

Cenningrara adalah semacam mantra; bagi masyarakat Bugis diyakini sebagai pembangkit aura. Lelaki yang menggunakan cenningrara akan terlihat tampan dan berwibawa sementara perempuan yang membacanya akan tampak cantik dan ayu dimata orang-orang yang melihatnya. 

[1] Sungguh, orang tua ini benar-benar tuli!
[2] Kencing secara tidak sengaja (takut atau malu).
[3] Minyak tokek; diyakini sebagai pemikat hati wanita dengan cara mengoleskan pada bagian tubuhnya.
[4] Mantra bodoh.
[5] Salah satu bagian dalam prosesi pernikahan adat Bugis di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan yakni mempelai pria menyentuh istrinya dan disaksikan oleh sanak keluarga kedua mempelai. Biasanya, pengantin pria menyentuh bagian jidat atau leher istrinya dengan menggunakan jari tengah.

0 Komentar:

Poskan Komentar