Selamat datang di http//chalimustang.blogspot.com. Semoga tulisan saya dan informasi di situs lain yang dilink melalui blog ini dapat bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca! Chali Mustang

Berburu Botol Bekas

Anak-anak menjulurkan tangan ke arah mobil yang melintas di jalan poros Kabupaten Bulukumba - Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Mereka berharap pengemudi kendaraan membuang botol minuman mereka yang sudah kosong untuk dijual kepada petani rumput laut di Bantaeng. Uangnya, dibelikan jajan atau ditabung untuk biaya sekolah.

Batik Bomba Nagaya

Ibu berusia senja sedang membatik di Rumah Industri Batik Bomba Nagaya Udin Hermawan di Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Batik Bomba Nagaya adalah batik khas Tadulako, Palu. Satu motifnya yang paling dikenal yaitu Motif Tai Ganja.

Lammang Bambu

Seorang warga Kampung Rukuruku, Kelurahan Palengu, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, membolak-balik lammang bambu di atas api pembakaran. Lammang bambu adalah salah satu makanan khas tradisional Sulawesi Selatan yang hingga kini masih banyak diproduksi di Jeneponto.

Sarung Sutera Mandar

Seorang perempuan sedang meng-klos (menggulung benang sutera) di Balai Industri Sutera, Desa Samasundu, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Benang ini selanjutnya ditenun menjadi kain lalu dibuat sarung. Salah satu ciri kain dan sarung khas sutera Mandar yaitu bermotif kotak-kotak.

Mengepak Rumput Laut

Pada suatu senja, di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, seorang ibu paruh baya sedang mengepak rumput laut yang sejak pagi dikeringkan di pinggir pantai. Budidaya rumput laut merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Bantaeng.

Terima kasih atas kunjungan Anda dan selamat membaca!

Senin, 07 Juli 2014

Masjid Tua Al-Mujahidin Aruhu Sinjai

MASUKNYA agama Islam di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan tidak terlepas dari peran seorang tokoh penyebar Islam ternama di tanah Bugis, Datuk ri Tiro. Dialah yang membawa Islam ke Lamatti, salah satu kerajaan tersohor di Sinjai pada abad ke 17, yang ditandai lahirnya masjid Al-Mujahidin yang hingga kini tetap berdiri kokoh. 

Masjid tua Al-Mujahidin Aruhu terletak di Bulu Lohe Kecamatan Bulupo'do Kabupaten Sinjai. Gerbang besi di sebelah kanan jalan poros Kecamatan Bulupo'do atau tepatnya di kilometer delapan arah barat ibu kota Sinjai ini, menjadi penanda menuju lokasi Masjid Al-Mujahidin.

Sekilas masjid ini tampak sederhana, namun keberadaannya memendam sejarah penting masuknya Islam di Kerajaan Lamatti. Bahkan, jamaah masjid ini menyebut Al-Mujahidin sebagai masjid tertua di Kabupaten Sinjai. 

Masjid Al-Mujahidin dibangun tahun 1613 M oleh Raja Lamatti VIII, Watesuro Ina Muttamaengngi Saddah Tanah. Konon, Watesuro diislamkan oleh Datuk ri Tiro, sosok penyebar agama Islam yang dikenal gigih berdakwah di Tanah Bugis, termasuk di wilayah Kabupaten Sinjai pada abad ke 17.

Masjid yang semula bernama masjid Bulu Lohe Aruhu ini, dipugar pertama kali oleh Raja Lamatti XXXVI, Andi Makkuraga Daeng Pagau Matinroe Ri Masiginna. Andi Makkuraga lahir tahun 1809, dan saat wafat pada tahun 1919, ia dimakamkan di dalam area masjid dan hingga kini makam tersebut menjadi bagian peninggalan sejarah di lokasi masjid Al-Mujahidin. 

Selain menjadi sentra kegiatan dan penyiaran agama Islam di Kerajaan Lamatti, pada tahun 1817 M, masjid Al-Mujahidin juga digunakan sebagai pusat perlawanan terhadap penjajah Belanda. “Dulu ini satu-satunya masjid di sini, jadi orang-orang dari Tompo Bulu di sini semua sembahyang Jum’at, kalau hari Kamis datangmi ke sini bermalam, orang-orang dari Bone juga di seberang datang ke sini sembahyang Jum’at, desa ini kan berbatasan dengan Bone hanya dibatasi sungai Tangka,” kata Ado, imam Masjid Al-Mujahidin. 

Masjid Al-Mujahidin Aruhu

Sejak awal berdirinya, masjid Al-Mujahidin dibangun dengan arsitektur sederhana. Tak heran, bila masjid ini jauh dari kesan megah, sebagaimana masjid raya di kota-kota besar di Indonesia.

Hingga kini, tiang penyangga masjid pun masih terbuat dari kayu. Sebelum dipugar, dinding masjid ini bahkan menggunakan bambu, berlantai tanah dan atapnya rumbia. Saat dipugar oleh Raja Lamatti XXXVI Andi Makkuraga, lantai masjid Al-Mujahidin sempat diganti batu kerikil yang konon perekatnya memakai cairan putih telur. 

Pemugaran berikutnya, dilakukan pada tahun 1805. Saat itu, makam Andi Makkuraga dan keluarganya dikeluarkan dari induk bangunan masjid, atau ditempatkan pada posisi teras di sebelah kiri depan area utama masjid.

Berdasarkan sejarahnya, masjid Al-Mujahidin juga pernah memiliki koleksi Al Qur'an raksasa dan tasbih sepanjang kurang lebih 3 meter. Meski sudah beberapa kali dipugar, namun arsitektur masjid Al-Mujahidin masih memiliki kesamaan dengan masjid tua lainnya di tanah air, seperti atapnya yang bertingkat empat dengan kuncup dipasangi keramik. 

"Bilal itu dulu ada di sini, kalau khatib mau naik di mimbar, bilal berdiri dulu, memberikan himbauan kepada jamaah, menyampaikan narekko elonni dibaca khatobbae fada mammekkonni, nakarana ko engka puada ada ada to lino deggaga ammala sokku naruntu, artinya tidak sempurna amalannya kalau ada jamaah yang berbicara saat khatib membaca khutbah,” ujar Ado.

Rehabilitasi terakhir masjid Al-Mujahidin dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tahun 1992 silam. Meski begitu, bentuk asli dan arsitektur sederhana masjid ini tidak dihilangkan, justru kian kokoh berdiri di tengah kawasan pemukiman Aruhu dan menjadi bukti sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Kabupaten Sinjai.***

Kenapa Sinjai Disebut Bumi Panrita Kitta?

BUMI Panrita Kitta adalah sebutan untuk menunjukkan Kabupaten Sinjai yang artinya tanah atau tempat para ulama. Dan, ternyata penamaan tersebut berasal dari sebuah masjid tua yang terletak di jantung Kota Sinjai tepatnya di Jalan Muhammad Tahir, Kelurahan Balangnipa, Kecamatan Sinjai Utara.

Masjid Nur Balangnipa, dibangun pada tahun 1660 masehi. Menurut sejarahnya, masjid ini dulu menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Islam pada jaman kerajaan –Balangnipa merupakan wilayah Kerajaan Lamatti sebelum Kabupaten Sinjai terbentuk.

Konon, masjid Nur didirikan oleh seorang sayyid keturunan Arab yang bermukim di Pammana Pompanua Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Pembangunan masjid mendapat dukungan para bangsawan Kerajaan Lamatti yang saat itu sudah memeluk agama Islam.

Pasca jaman kerajaan, pembinaan masjid Nur Balangnipa selanjutnya dipimpin Sayyid Abu, seorang sayyid generasi ke-15. Sayyid Abu yang diketahui membentuk organisasi pemuda masjid dan aktif mengembangkan program syiar Islam dengan cara memfungsikan masjid sebagai pusat dakwah dan pendidikan.

Salah satu kader Sayyid Abu yang tersohor di Sinjai adalah Kiayi Haji Muhammad Tahir atau biasa disapa Puang Kali Cambang atau Puang Kali Taherong. Dialah yang kemudian didaulat menjadi takmir masjid Nur Balangnipa saat Sayyid Abu wafat pada tahun 1902.

Dibawah kepemimpinan Kiayi Haji Muhammad Tahir, aktifitas syiar Islam di masjid Nur kian berkembang, bahkan sempat mendirikan organisasi Islam, seperti Nahdatul Ulama, Masyumi, dan Hizbul Wathan. Saat itu, aktifitas pendidikan Islam di masjid Nur Balangnipa juga menelorkan banyak pemuda yang pandai menghafal dan menterjemahkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Karena itulah, Kabupaten Sinjai dinamai Bumi Panrita Kitta, yang artinya tanah para ulama atau tempat orang yang pandai menghafal dan menterjemahkan kitab suci Al-Quran.

“Sejarah membuktikan bahwa di lantai dua masjid Nur Balangnipa ini, dulu menjadi tempat pembinaan agama dan penghafalan Al-Qur'an, sehingga dari masjid inilah muncul penamaan sinjai sebagai Bumi Panrita Kitta, dan sampai sekarang ini kalau shalat tarwih di masjid ini tetap diambil 30 jus atau tamat Al-Qur'an sampai akhir ramadhan," kata Ketua Yayasan Masjid Nur Balangnipa Muhammad Yusuf Ahmad, yang juga adalah keturunan Kiayi Haji Muhamamd Tahir.

Seiring waktu berjalan, renovasi masjid Nur Balangnipa terus dilakukan, hingga pada tahun 1935, tiga buah menara yang menggunakan tangga berbahan kayu berhasil dibangun. Selain kubah dengan tangganya yang terbuat dari kayu, pengelola Yayasan Masjid Nur Balangnipa juga masih menyimpan sejumlah ornamen masjid yang memiliki nilai sejarah masa silam, seperti mimbar unik dari potongan kayu dan gendang penanda waktu sholat. “Sebelum dipugar, ada beberapa ciri khas masjid Nur yang barangkali tidak dijumpai di masjid lain, seperti tanda waktu tidak menggunakan loud speaker tapi memakai gendang, apabila masuk waktu sholat misalnya subuh maka gendang dipukul 2 kali atau saat duhur dipukul 4 kali sesuai rakaat sholat," ujar Muhammad Yusuf Ahmad. 

Kendati sudah beberapa kali direnovasi, namun bentuk asli masjid Nur Balangnipa tidak berubah. Pengelola bertekad untuk terus menjaga masjid ini, sebagai rumah ibadah dan bukti sejarah syiar Islam di Bumi Panrita Kitta.***

Gancu Rumput Temuan Hadrawi

PETANI kebun di Desa Saotengnga, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, punya cara tersendiri mengatasi tanaman pengganggu. Mereka menggunakan gancu bermata tiga untuk menyingkirkan rumput yang tumbuh liar di kebun mereka. Menariknya, gancu rumput tersebut ditemukan oleh seorang guru sekolah dasar, yang kemudian ramai-ramai diadopsi petani lainnya. 

Dusun Kaleleng, Desa Saotengnga, Kecamatan Sinjai Tengah, terletak di wilayah pegunungan Kabupaten Sinjai. Desa ini dihuni oleh masyarakat yang umumnya bekerja sebagai petani kebun cengkeh, kakao dan merica.

Andi Hadrawi adalah salah seorang petani kreatif di desa ini. Ia menemukan alat pertanian, yang diberi nama gancu rumput. Kendati terbilang sederhana, namun gancu bermata tiga yang terbuat dari besi bekas ini, mampu menyingkirkan tanaman pengganggu tiga kali lebih cepat.

Ide untuk membuat gancu rumput ditelorkan Andi Hadrawi sepuluh tahun silam. Saat itu, lelaki 54 tahun yang juga bekerja sebagai guru di SD 67 Saohiring Sinjai Tengah ini, mengaku sulit menyingkirkan rumput liar yang selalu tumbuh di kebun cengkeh miliknya.

Saat itulah, ia mencari akal dengan memungut besi bekas lalu dibuat gancu bermata tiga yang selanjutnya diberi gagang. Temuan sederhana ini pun langsung dirasakan manfaatnya. Dengan alat ini, Andi Hadrawi bisa membersihkan tanaman pengganggu di kebunnya dengan mudah. “Awalnya saya pakai parang dua, cuma kalau pake parang tidak ada giginya, kalau alat ini pake gigi, sehingga lebih bersih, dengan alat ini efektifitasnya satu banding tigalah, kata Andi Hadrawi.

Lantaran manfaatnya dianggap besar, gancu rumput buatan Hadrawi langsung diadopsi oleh petani lainnya di Desa Saotengnga. Mereka ramai-ramai menggunakan alat yang sama di kebun mereka. Selain biaya pembuatannya murah, alat pertanian ini disukai karena penggunaannya terbilang tahan lama.

Saat ini, Andi Hadrawi bahkan tidak mau menggunakan racun rumput untuk mematikan tanaman pengganggu. Bagi ayah tiga anak ini, penggunaan pestisida bisa merusak tanaman penting yang ada di kebunnya. saya tidak pernah gunakan racun rumput, sudah 30 tahun, kalau saya haramkan racun rumput, karena banyak pengaruhnya sama tanaman, lambat laun tanaman akan mati kalau menggunakan racun rumput, katanya.

Gancu rumput serupa cakar elang buatan Andi Hadrawi, kini menjadi alat pertanian baru di Desa Saotengnga. Ide kreatif alumni universitas terbuka di Sinjai ini, mampu mengilhami ratusan petani lainnya untuk berkebun dengan cara mudah dan efektif.***

Selasa, 17 Juni 2014

Kebun Mini di Bontolaisa


MEMBUKTIKAN kepedulian terhadap lingkungan bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Di sebuah desa terpencil Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan, kaum ibu ramai-ramai menyulap halaman rumah mereka menjadi kebun mini yang produktif. 
__________________________________________

Kampung Bontolaisa terletak di Desa Gantarang Kecamatan Sinjai Tengah Kabupaten Sinjai. Sebuah pemukiman penduduk yang berada di wilayah pegunungan atau berjarak kurang lebih 40 kilometer dari ibu kota Sinjai.

Sebelumnya, Bontolaisa tidak lebih dari sebuah kawasan pemukiman biasa. Namun sejak bulan Januari 2014 lalu, wajah kampung berpenduduk ratusan jiwa ini berupah rupa. Semua halaman rumah mereka terlihat sejuk dan asri sehingga sedap dipandang mata. Kaum ibu Kampung Bontolaisa ramai-ramai memanfaatkan halaman rumah mereka, menanam aneka sayur mayur dan tanaman obat hidup. 

Juharni, perempuan 35 tahun, salah seorang anggota Kelompok Wanita Tani Bunga Mekar Bontolaisa. Ia terbilang sukses menghijaukan halaman rumahnya. Guru honorer di salah satu MTS di Desa Gantarang Kecamatan Sinjai Tengah ini merawat ratusan tanaman yang kini berjejer di depan rumahnya seperti tomat, pepaya, serai cabai dan bayam. 

Kian mahalnya harga pangan menjadi salah satu faktor yang mendorong Juharni mengelola halamannya menjadi sebuah lahan sempit yang produktif. Selain sayur mayur dan tanaman obat-obatan. Ia juga memiliki kolam ikan lele yang digali tepat di samping rumahnya. “Kalau kami baru star di prospek rumah tangga dulu atau secara ekonomi belum, tapi ini sangat membantu pengeluaran rumah tangga, tinggal dipetik," kata Juharni.

Meski tanaman di Kampung Bontolaisa masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga, namun yang pasti, Juharni dan puluhan ibu lainnya di kampung ini sudah membuktikan bahwa mereka benar-benar peduli dan cinta lingkungan. 

“Sekecil apapun kan pekarangan itu bisa dimanfaatkan, kita bisa menggunakan model bertingkat pakai polybag atau tanam langsung, ini juga tidak membutuhkan biaya banyak, cuma memang barangkali haru rajin,” ujar Juharni, lalu berharap agar ibu-ibu di desa lainnya juga menyulap halaman kosong di depan rumahnya menjadi kebun mini.***

Selasa, 29 Oktober 2013

Nelayan Kambuno "Sang Pencari Teripang"

PULAU Kambono Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan ternyata memendam satu cerita pilu. Sedikitnya 300 nelayan di pulau itu pernah ditangkap patroli perairan Australia. Selain ditangkap, perahu mereka juga dibakar di Negeri Kanguru. Berikut cerita nelayan Kambuno “sang pencari teripang”.
________________________________________

Pulau Kambono adalah satu dari 9 pulau yang ada di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan. Jaraknya kurang lebih 3 mil dari ibu kota Sinjai. Untuk menuju ke sana, kita bisa menggunakan perahu penumpang atau speed boat melalui Pelabuhan Cappa Ujung Kelurahan Lappa Kecamatan Sinjai Utara. 

Tarif speed boat Rp.25.000,- /orang dan bila menumpangi perahu biasa, tarifnya Rp.10.000,- /orang. Speed boat yang berkapasitas 10 orang hanya butuh waktu kurang lebih 20 menit menuju Pulau Kambuno.

DESA Harapan yang merupakan ibu kota Pulau Sembilan terdapat di Pulau Kambuno. Di desa inilah, ratusan kaum lelaki bekerja sebagai nelayan pencari teripang.
Nelayan Kambono memang dikenal lihai menyelam. Mereka berlatih di sekitar pulau sejak kecil. Dan, bila sudah dewasa, mereka pun melaut. Mencari lokasi penyelaman teripang hingga ke perairan Kupang Nusa Tenggara Timur. Hanya saja, nelayan Pulau Kambono punya cerita miris. Mereka kerap berurusan dengan patroli Perairan Australia.

Jumat 11 Oktober 2013, 19 nelayan Kambuno kembali ditangkap karena tuduhan melanggar batas teritotiar Indonesia – Malaysia. Mereka ditangkap bersama sejumlah nelayan asal Kupang. "Hari Jumat saya tahu kalau suamiku ditangkap, Pak. Saya tahu itu dari orang Kupang yang menelepon saya, suamiku juragan di kapal itu," kata Bau Indo, istri salah seorang nelayan yang ditangkap 11 Oktober 2013.

Pemda Sinjai telah meminta agar Australia mengupayakan pembebasan semua nelayan asal Pulau Kambuno yang ditangkap. Melalui KBRI di negara itu, Pemda juga meminta agar Australia menghentikan penangkapan nelayan Sinjai karena aktifitas penyelaman yang mereka lakukan masih berada di wilayah Indonesia. 

Nelayan Sinjai menyelam teripang di Perairan Kupang sejak tahun 1996. Hingga kini, sudah 300 orang yang pernah ditangkap patroli perairan Australia. Selain ditangkap, sebagian nelayan mengaku perahunya dibakar sebelum mereka dideportasi ke Indonesia. Bila sudah begitu, pemilik perahu pun merugi ratusan juta rupiah.

“Menurut mereka itu Australia, Pak. Tapi kami tidak tahu kalau itu sudah wilayah Australia, kami cari teripang di sana, tapi tidak adaji tindak kekerasan, Pak. Di Darwin itu kalau ditangkap perahu dibakar, tapi ada juga yang tidak dibakar,” kata Syahrir mantan nelayan pencari teripang asal Pulau Kambuno, “mulai 1996 hingga sekarang sudah ada 300 nelayan dari pulau ini yang ditangkap, Pak." 

Kenyataan pahit yang dialami Syahrir di Australia adalah potret duka ratusan nelayan Sinjai. Bahkan mungkin menjadi catatan pilu nelayan Indonesia yang juga pernah mengalami nasib serupa.

Jumat, 19 Juli 2013

Pemilu dan Golongan Putih

PADA tanggal 16 Mei 2013 lalu, www.tribunnews.com menurunkan kabar mencengangkan berjudul “Angka Golput Pemilu 2014 Diprediksi Turun 30 Persen”. Di dalam berita tersebut, peneliti senior Indonesia Public Institute (IPI), Karyowo Wibowo dengan ‘luwes’ memprediksi angka Golput dalam Pemilu Legislatif 2014 mendatang turun tak kurang 30 persen dari Pemilu 2009 lalu. Menurut Karyono Wibowo, ada dua pemicu utama munculnya Golput yaitu; pertama, faktor teknis dimana pada hari pemilihan, wajib pilih disibukkan urusan pribadi. Kedua, kejenuhan publik lantaran banyaknya janji yang tidak ditepati wakil rakyat, kasus korupsi yang melibatkan banyak politisi, dan juga skandal. “Itu yang akan memberi kontribusi angka Golput”. Begitu kata Karyono Wibowo.

Selanjutnya tanggal 28 Juni 2013, www.tribunnews.com kembali memuat berita soal problem kian tingginya angka Golput. Di berita itu, dijelaskan seorang Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi, August Mellaz, bahwa tingkat penurunan partisipasi pemilih terlihat pada tiga pelaksanaan Pemilu Legislatif, masing-masing tahun 1999, 2004 dan tahun 2009. Pemilu tahun 1999 partisipasi pemilih 92,99 persen, turun menjadi 84,07 persen pada Pemilu 2004 dan pada tahun 2009 mencapai 70,99 persen.

Atas dasar itu August Mellaz menegaskan bahwa trend partisipasi pemilih di Indonesia menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara Pemilu dalam konteks merangsang peningkatan partisipasi pemilih pada Pemilu 2014 mendatang. Meskipun dipahami bahwa persoalan partisipasi pemilih sebetulnya ‘merindukan’ upaya serius yang bukan hanya oleh KPU tapi juga elemen lain seperti pemerintah, organisasi masyarakat bahkan peserta Pemilu itu sendiri.

Fakta berikutnya yang senada dengan tingginya angka Golput terkuak pada perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) 11 provinsi dalam kurun waktu 2012-2013. Tingkat partisipasi pemilih rata-rata berada pada kisaran 68,82 persen. Jumlah suara tidak sah mencapai 4,10 persen dan jumlah pemilih yang tidak menggunakan haknya 31,18 persen. Sebelas daerah Pilgub yang dimaksud masing-masing Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Papua, Jawa Barat, Sumatera Utara, Provinsi Papua Barat, Aceh, Sulawesi Barat, Bangka Belitung, Banten, dan DKI Jakarta. Sumatera Utara memegang rekor tertinggi pemilih yang tidak menggunakan haknya yakni mencapai 51,42 persen atau setara dengan 5,29 juta pemilih terdaftar.

Realitas tersebut sedianya menuai kehawatiran kita semua. Karenanya, dibutuhkan rumusan yang dilakukan secara bersama-sama tentang bagaimana formula dan pendekatan ideal untuk memaksimalkan tingkat partisipasi masyarakat khususnya dalam menggunakan hak pilihnya. Walaupun diketahui bahwa mustahil untuk meningkatkan partisipasi politik rakyat dalam Pemilu pada angka 100 persen. Tapi besar kecilnya jumlah Golput sangat tergantung pada maksimal tidaknya upaya yang dilakukan.

Sebagaimana dikatakan Ketua KPU, Husni Kamil Manik belum lama ini bahwa Pemilu bukan hanya intrik politik, adu strategi antar kandidat untuk menjadi pemenang. Tapi seharusnya juga bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, sebagai sebuah pesta demokrasi, dan sebagai hiburan. Lantaran itu pula Husni menghimbau jangan ada kekerasan dalam Pemilu, tapi yang ada adalah kegembiraan dalam Pemilu -jika penyelenggaraan Pemilu dapat terlaksana seperti apa yang diharapkan, maka tingkat partisipasi masyarakat pun akan tinggi.

Golput memang merupakan fenomena alamiah. Artinya bahwa Golput selalu ada di setiap Pemilu di negara manapun. Hanya saja itu harus terbatasi oleh jumlah karena sejatinya Golput baru disebut sehat jika angka-nya pada kisaran 30 persen.


Partisipasi Politik

Secara harafiah, partisipasi politik mengandung arti keikutsertaan. Keikutsertaan warga dalam berbagai proses politik (warga terlibat dalam segala tahapan kebijakan, mulai dari sejak pembuatan keputusan sampai dengan penilaian keputusan, termasuk juga peluang untuk ikut serta dalam pelaksanaan keputusan). Dan, Pemilu sebagai salah satu bentuk nyata perhelatan politik merupakan implementasi dari salah satu ciri demokrasi dimana rakyat secara langsung dilibatkan, diikutsertakan dalam rangka menentukan arah dan kebijakan politik negara lima tahun kedepan.

Tapi, bila menengok ke belakang -Pemilu 2009 misalnya-, lantaran sedemikian banyaknya Partai Politik (Parpol), masyarakat justru menjadi bingung. Selain itu, ada partai yang dinilai tidak lagi memiliki fungsi seperti yang rakyat harapkan sehingga rakyat menjadi kurang termotivasi untuk memainkan perannya sebagai pemilih atau cenderung menolak untuk memilih.

Sri Yanuarti dalam bukunya berjudul Golput dan Pemilu di Indonesia memaparkan bahwa gerakan Golput sebenarnya dipelopori oleh Arif Budiman yang mulai popular di era 70-an. Golongan ini muncul akibat ketidakpuasan terhadap pelaksanaan Pemilu tahun 1971. Meski diketahui angka Golput pada tahun 1955 lebih tinggi dibandingkan dengan Pemilu 1971 karena memang Pemilu 1955 adalah Pemilu pertama di Indonesia (pada periode tersebut angka buta huruf masih terbilang tinggi).

Seiring waktu berjalan, masalah Golput pun kian merebak dan menjadi bahasan menarik di media online, cetak, dan elektronik. Ada trend peningkatan jumlah Golput pada setiap pemilihan di negeri ini. Dan, beberapa pihak cenderung “menyudutkan” penyelenggara Pemilu terhadap realitas tingginya angka Golput tersebut.

Kinerja KPU dituding sebagai satu-satunya ‘biang’ tingginya angka Golput. Padahal, banyak instrumen lain yang mendorong warga untuk tidak menggunakan hak pilihnya. Sebut saja kurangnya kedekatan baik kandidat maupun Parpol dengan masyarakat juga menjadi faktor penyebab banyaknya masyarakat yang memilih Golput.

Golput juga terjadi karena terdapat ‘gelembung’ kejenuhan masyarakat terhadap sistem dalam Pemilu. Artinya, ada pola tingkah laku para wakil rakyat yang dianggap keliru (tidak lazim) dan banyaknya kepala daerah yang tidak bisa menunjukkan kinerja yang lebih baik. Akibatnya, masyarakat merasa kurang mendapatkan manfaat langsung dari Pemilu itu.

Pada beberapa kesempatan saya meliput Pemilu, saya mendengar langsung pernyataan warga bahwa mereka tidak turut mencoblos karena beberapa alasan. Ada yang menolak ke TPS karena kandidatnya tidak lolos, sebagian mengaku tidak kebagian kartu pemilih, bahkan ada yang apatis dan mengatakan bahwa lebih penting bekerja untuk keluarga mereka saat itu ketimbang meluangkan waktu untuk mencoblos yang notabene tidak membuahkan dampak baik bagi mereka.


Golput Itu Masalah Bersama

Dalam sebuah negara demokratis, pelibatan masyarakat secara maksimal dalam proses penyelenggaran Pemilu adalah suatu keharusan. Acuan mengenai apa langkah-langkah sederhana untuk meningatkan partisipasi masyarakat dalam Pemilu dapat dilihat pada ketentuan Pasal 246 UU Nomor 08/2012 tentang Pemilu Anggota Legilatif. Pertama, memaksimalkan proses sosialisasi tentang pentingnya Pemilu dalam sebuah negara yang demokratis. Di sini, bukan hanya sosialisasi teknis penyelenggaraan Pemilu tapi juga sosialisasi segala hal misalnya tentang apa yang melatarbelakangi pelaksanaan Pemilu.

Kedua, pendidikan bagi pemilih perlu mendapatkan fokus yang jelas. Pendidikan pemilih pemula yang merupakan segementasi penting, tidak hanya dilakukan ketika masuk usia pilih akan tetapi seyogyanya dilakukan sedini mungkin sehingga pemahaman tentang urgensi keterlibatan mereka dalam Pemilu kelak menjadi mapan ketika sudah mencapai usia pemilih.

Ketiga, survei atau jajak pendapat. Meski penghitungan cepat kini banyak mendapatkan sorotan publik terkait integritas pelaksanaannya namun keberadaan kegiatan survei atau jajak pendapat dan penghitungan cepat sangatlah penting. Terlepas apakah kegiatan survei atau jajak pendapat itu ditujukan untuk menghitung atau profit, karenanya tercipta efek positif lain yang dihasilkan yakni adanya proses pendidikan bagi para pemilih dan atau mereka mendapat informasi terkait dengan penyelenggaraan Pemilu.

Keempat, peningkatan kinerja penyelenggara Pemilu. Hal ini bukan hanya terkait pada kinerja teknis penyelenggaraan, namun juga dalam hal penumbuhan kesadaran tentang pentingnya partisipasi masyarakat dalam Pemilu, sehingga mereka bisa memahami partisipasi apa saja yang dapat dilakukan dan apa output dari partisipasi tersebut.

Selain empat langkah di atas, bagi saya, Parpol dalam hubungannya dengan sistem sosial politik juga sejatinya memainkan berbagai fungsi dalam upaya meningkatkan partisipasi rakyat dalam Pemilu. Selain melakukan artikulasi kepentingan, Parpol mulai dari tingkat pusat hingga daerah harus memperhatikan fungsi input yakni sebagai sarana sosialisasi politik, komunikasi politik, rekruitmen politik, dan agregasi kepentingan.

Khusus bagi penyelenggara Pemilu yang dalam hal ini KPU, hal yang acap kali mencuat adalah adanya warga yang mengaku tidak kebagian kartu pemilih. Hal tersebut tidak lain adalah masalah teknis yang sedianya mendapat kepastian bahwa setiap wajib pilih sudah mendapatkan kartu pemilih jauh hari sebelum digelarnya Pemilu. Dengan begitu, terdapat rentan waktu yang cukup guna melakukan pembenahan bila ternyata ditemukan masih ada warga yang belum mendapatkan kartu pemilih.

Semoga dalam perhelatan Pemilu ke depan, jumlah partisipasi pemilih dapat lebih meningkat atau tidak dalam arti yang sebaliknya. Karena diketahui, pintu partisipasi politik sebenarnya sudah terbuka lebar dan yang menjadi harapan kita bahwa pintu itu dapat dilewati oleh siapapun juga. *** (Artikel ini telah dimuat di Harian Tribun Timur, edisi 16 Juli 2013)

Selasa, 16 Juli 2013

Batas

SUATU sore, saat suara qori melesat dari pucuk menara masjid pertanda ashar, di sudut jalan kota itu, di atas trotoar, di bawah pohon nan teduh, seorang ibu berbaju kumal sedang duduk beralaskan koran. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti setiap kendaraan yang melintas. Berharap sebuah mobil mewah berhenti lalu dari dalam mobil itu turun orang kaya dan menyodorkan sejumlah uang. Ibu paruh baya itu seperti menimang-menimang rasa cemas yang begitu melarut. Masihkah sore ini ada sosok yang iba kepadanya? Siapa-lagikah gerangan yang akan memberinya sedikit uang sebelum ia pulang ke negeri kemiskinan untuk berbuka puasa?

Tentu saja, pengemis itu nasibnya berbeda dengan yang lain. Ada batas antara dia dengan yang orang-orang yang berkelebihan. Alasannya karena dia tidak punya banyak uang. Meski dia juga manusia, punya tai lalat warnanya hitam sama dengan tai lalat orang-orang kaya di sana, tapi harta sepertinya benar-benar menjadi pembatas antara dia dengan mereka.

Pengemis itu berdiri. Ia beranjak dari sisi trotoar. Ia berjalan menuju simpang jalan. Sesekali dia memendarkan pandang ke langit yang cahayanya menyeruak kemerah-merahan. Awan-awan berjalan pelan. Seperti jalannya rejeki pengemis itu yang juga lambat. Ia bergabung dengan orang-orang yang juga datang dari negeri kemiskinan. Berjajar-jajar di simpang jalan itu. Menjulurkan tangan ke depan sambil memegang topi tikar pandan yang sudah jebol tepinya. Pengemis-pengemis itu memaki baju compang-camping yang sudah tidak jelas warnanya.

Biasanya, bila bulan ramadhan seperti ini, orang-orang berkecukupan seolah-olah berlomba memberi sedekah kepada mereka yang kekurangan. Dan lantaran bulan puasa dimaknai sebagai bulan berbagi, pengemis-pengemis dari negeri kemiskinan itu pun berdatangan, berharap keciprat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya –mereka tahu betul bahwa bulan seperti ini adalah waktu yang paling tepat untuk memperoleh haknya.

MENJELANG bedug berbuka, ibu paruh baya itu kembali ke trotoar. Ia duduk di sana dengan wajah yang letih. Sejak pagi, ia baru mendapat delapan lembar uang seribuan. Tiba-tiba sebuah mobil sedan mengkilat berhenti tepat di depan pengemis itu. Ia lekas berdiri. Kaca pintu mobil itu bergerak turun. Pada jok bagian tengah, seorang lelaki tambun berkacamata hitam duduk tersenyum. Wajahnya putih bersih. Tentu saja wajah itu berbeda dengan raut muka perempuan yang berdiri di samping mobilnya. Lelaki itu menyerahkan selembar uang seratusan ribu. “Ini, Bu, terimalah!“ katanya. Sontak pengemis itu senang bukan main. “Terima kasih, Pak, terima kasih…, mudah-mudahan rejeki Bapak bertambah terus,” kata pengemis itu lalu mencium uang di tangannya.
“Sama-sama, Bu,” kata lelaki itu lalu pergi lagi.

Pengemis itu girangnya sungguh tak terbendung. Bukan apa-apa, baru kali ini ia mendapatkan sedekah sebanyak itu. Ia kembali ke trotoar dengan sumringah. Siap-siap pulang. Ketika ia hendak melipat koran yang sejak pagi digelar sebagai alas tidurnya, tiba-tiba matanya menangkap foto yang mirip sekali dengan lelaki yang baru saja memberinya uang. Pengemis itu mengamati foto itu dengan seksama. Di atas foto itu tertera kalimat dengan huruf besar-besar, Tersangka Korupsi 20 Milyar. “Ah, biar saja, yang penting hari ini aku dapat banyak,” kata pengemis itu lalu bergegas pulang ke negeri kemiskinan untuk berbuka puasa….

Minggu, 09 Juni 2013

Poto-Poto di Bumi Panrita Kitta

KABUPATEN Sinjai, Sulawesi Selatan memiliki beragam penganan khas lokal. Salah satunya adalah kue simpul yang bagi masyarakat setempat disebut poto-poto. Kudapan ini bentuknya seperti simpul tali dan rasanya gurih. Lantaran terus diburu konsumen, kue ini mengantar sejumlah pemilik rumah industri makanan di Bumi Panrita Kitta meraup untung berlipat.  

__________________________


Salah satu sentra pembuatan kue simpul tedapat di Jalan Gurami, Kelurahan Lappa, Kecamatan Sinjai Utara. Namanya rumah industri kue simpul melati. Usaha ini dirintis Rosma sejak tahun 1995.

Kendati bermodal nekat dan terbilang coba-coba, usaha kue simpul yang dikelola perempuan paruh baya ini berkembang pesat. Kini ia berhasil mempekerjakan sedikitnya 40 karyawan.

Bagi masyarakat Sinjai, kui ini lebih tenar dengan sebutan poto-poto. Bahan baku pembuatannya antara lain terigu, bawang merah, gula dan mentega. Proses pembuatannya pun terbilang simple –irisannya kecil-kecil serupa simpul tali.

Setelah tersimpul, irisan kue selanjutnya dimasukkan dalam wadah penggorengan. Bila sudah matang, kue selanjutnya didinginkan lalu dikemas dalam plastik.

Sederhana memang, namun kudapan ini berhasil dipatenkan menjadi kue khas lokal Bumi Panrita Kitta bahkan telah diikutkan dalam sejumlah ajang pameran di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

Lantaran sukses mengembangkan usaha kue simpul, Rosma sang pemilik rumah industri Kue Simpul Melati berhasil meraih sejumlah penghargaan. Salah satunya adalah Piagam Bintang Satu Keamanan Pangan dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Sulsel.

“Inspirasi usaha saya ini sejak tahun 1995, sekarang karyawan saya empat puluh,” kata Rosma, “kalau harganya Rp3.000 yang kecil, yang sedang Rp5.000, yang besar Rp10.000.”

Menurut Rosma, kue simpul buatannya dipasarkan hingga ke Makassar, Parepare, Kendari dan Balikpapan.

Permintaan poto-poto meningkat seiring kegiatan dinas perindustrian dan perdagangan setempat yang aktif menggelar promosi kue simpul secara berkala di luar daerah Sinjai. Hal tersebut tentu saja mendongkrak omzet rumah industri kue simpul Melati hingga mencapai Rp120.000.000,- per bulan.

Nah, bila anda berkunjung ke Kabupaten Sinjai, tak ada salahnya mampir di rumah industri makanan Melati. Anda bisa mencicipi gurihnya poto-poto atau membawa pulang sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah.